Minggu, 19 Desember 2021

1.4.a.10.2 Aksi Nyata - Budaya Positif - Forum Berbagi Aksi Nyata

 

Pada kesempatan kali ini saya akan berbagiaksi nyata  sosialisasi menerapkan budaya positif pada SDN 11 Buke, Kecamatan Buke Kabupaten Konawe Selatan. Aksi nyata ini merupakan pemahaman saya tentang budaya positif setelah mempelajari modul 1.4 Budaya Positif dan mengaitkan beberapa modul materi

Foto. Mengajak atau sosialisasi tentang penerapan budaya positif pada guru teman sejawat



Foto.  sosialisasi tentang penerapan budaya positif pada murid

Modul 1.4 Budaya Positif terdiri dari materi :

1.            Perubahan Paradigma

2.            Konsep Disiplin Positif dan Motivasi

3.            Keyakinan Kelas

4.            Pemenuhan Kebutuhan Dasar

5.            Posisi Kontrol

6.            Segitiga Restitusi

Penjabaran dari materi tersebut adalah sebagai berikut :

1.         Perubahan Paradigma

Adalah perubahan cara pandang kita terhadap segala sesuatu berdasarkan berbagai pertimbangan sudut pandang.

Contoh ;

Realitas (kebutuhan) kita sama.

Realitas (kebutuhan) kita berbeda.

Semua orang melihat hal yang sama.

Setiap orang memiliki gambaran berbeda.

Kita mencoba mengubah orang agar berpandangan sama dengan kita.

Kita berusaha memahami pandangan orang lain tentangdunia.

Perilaku buruk dilihat sebagai suatu kesalahan.

Semua perilaku memiliki tujuan.

Orang lain bisa mengontrol saya.

Hanya Anda yang bisa mengontrol diri Anda.

Saya bisa mengontrol orang lain.

Anda tidak bisa mengontrol oranglain.

Pemaksaan ada pada saat bujukan gagal.

Kolaborasi dan konsensus menciptakan pilihan-pilihan baru.

Model Berpikir Menang/Kalah.

Model Berpikir Menang-menang.

 2.         Konsep Disiplin Positif dan Motivasi

Disiplin diri dapat membuat seseorang menggali potensinya  menuju kepada sebuah tujuan, sesuatu yang dihargai dan bermakna.  Dengan kata lain, disiplin diri juga mempelajari bagaimana cara kita mengontrol diri, dan bagaimana menguasai diri untuk memilih tindakan yang mengacu pada nilai-nilai yang kita hargai. Dengan kata lain, seseorang yang memiliki disiplin diri berarti mereka bisa bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya karena mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal. Mengapa kita melakukan segala sesuatu? Apakah kita melakukan sesuatu karena adanya dorongan dari lingkungan, atau ada dorongan yang lain? Terkadang kita melakukan sesuatu karena kita menghindari rasa sakit atau ketidaknyamanan, Terkadang kita juga melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang kita mau. Bagaimana menurut Anda? Pernahkah Anda melakukan sesuatu untuk mendapat senyuman dari orang lain? Untuk mendapat hadiah? Apa lagi kira-kira alasan orang melakukan sesuatu ?

Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline, menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia :

  1. Untuk  menghindari  ketidaknyamanan atau hukuman
  2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
  3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya.

3.         Keyakinan Kelas

Mengapa keyakinan kelas, mengapa tidak peraturan kelas saja  “Mengapa kita memiliki peraturan tentang penggunaan masker dan mencuci tangan setiap saat ” Mungkin jawaban Anda adalah “untuk kesehatan dan/atau keselamatan”. Nilai-nilai keselamatan atau kesehatan inilah yang kita sebut sebagai suatu ‘keyakinan’, yaitu nilai-nilai kebajikan atau prinsip-prinsip universal yang disepakati bersama secara universal, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Menurut Gossen (1998), suatu keyakinan akan lebih memotivasi seseorang dari dalam, atau memotivasi secara intrinsik. Seseorang akan lebih tergerak dan bersemangat untuk menjalankan keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan.

4.         Pemenuhan Kebutuhan Dasar

Seluruh tindakan manusia memiliki tujuan tertentu. Semua yang kita lakukan adalah usaha terbaik kita untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, sebetulnya saat itu kita sedang memenuhi satu atau lebih dari satu kebutuhan dasar kita, yaitu kebutuhan untuk bertahan hidup (survival), cinta dan kasih sayang (love and belonging), kebebasan (freedom), kesenangan (fun), dan kekuasaan (power). Ketika seorang murid melakukan suatu perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, atau melanggar peraturan, hal itu sebenarnya dikarenakan mereka gagal memenuhi kebutuhan dasar mereka.

5.         Posisi Kontrol

Penghukum: Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-murid lebih dalam lagi. Guru-guru yang menerapkan posisi penghukum akan berkata :

“Patuhi aturan saya, atau awas!”

“Kamu selalu saja salah!”

Pembuat Orang Merasa Bersalah : pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih lembut. Pembuat orang merasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri. Kata-kata yang keluar dengan lembut akan seperti :

“Ibu sangat kecewa sekali dengan kamu”

“Berapa kali Bapak harus memberitahu kamu ya?”

Teman : Guru pada posisi ini tidak akan  menyakiti murid, namun akan tetap berupaya mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid. Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk mempengaruhi seseorang. Mereka akan berkata :

“Ayo bantulah, demi bapak ya?”

“Ya sudah kali ini tidak apa-apa. Nanti Ibu bantu bereskan”.

Monitor/Pemantau : Memonitor berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid, sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau. Pertanyaan yang diajukan seorang pemantau :

“Peraturannya apa?”

“Apa yang telah kamu lakukan?”

Manajer : Posisi terakhir, Manajer, adalah posisi mentor di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid, mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.

6.         Segitiga Restitusi

Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004) Melalui restitusi, ketika murid berbuat salah, guru akan menanggapi dengan cara yang memungkinkan murid untuk membuat evaluasi internal tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan mereka dan mendapatkan kembali harga dirinya.

Alur restitusi :

Menstabilkan identitas.

Validasi tindakan yang salah.

Menanyakan keyakinan.