|
Melatih Diri Menjadi Lebih Sabar
|
|
Peradaban modern melatih dan membuat kita selalu
berkompetisi untuk menjadi lebih cepat. Apapun yang dilakukan dengan lebih
cepat dan jika menghasilkan kesuksesan, akan menjadikan diri kita mendapatkan
decak kagum dari orang lain. Yah begitulah tuntutan jaman modern yang serba
cepat dan harus terburu-buru, sampai sampai kita tidak bisa melihat apa yang
telah kita perbuat sampai detik ini. Bagi kita yang baru memulai karir baru
di suatu perusahan, karena tuntutan kompetisi sudah harus memikirkan
bagaimana memikirkan posisi atasan dalam 2 atau tiga tahun lagi. Bagi teman
kita yang baru berumah tangga sudah harus memikirkan bagaimana cepat cepat
punya anak atau bagi saudara kita yang baru menjadi pedagang, harus buru-buru
mencari usaha baru yang lebih menguntungkan.
Tidak ada yang salah memang dengan kompetisi yang
sangat cepat ini, hanya saja kalau kita larut didalamnya, kita akan
mendapatkan diri kita berjalan sangat jauh, dan tidak bisa lagi mengingat
makna dari tahapan yang kita lalui. Proses yang kita lalui akan menjadi
gersang, dan kehilangan makna serta akan hilang dengan berjalannya fungsi
waktu. Inilah apa yang disebutkan oleh orang tua perjalanan yang
terburu-buru. Melihat makna dari langkah demi langkah yang kita jalani
memerlukan sikap yang lebih sabar.
Tidak mudah menjadi sabar kalau kita tidak tahu apa
yang harus kita sadari.Dalam Agama Hindu, sikap sabar dijabarkan begitu
luhurnya dalam ajaran Panca Yama Brata. Sikap sabar hendaknya menjadi
landasan spiritual didalam memandang masalah yang dihadapi. Orang yang sabar
lebih banyak mendapatkan berkah dari yang tidak sabar. Tutur katanya akan
dijaga dengan intonasi yang enak didengar. Ucapannya akan mengalir dalam
wacika yang tidak mungkin akan menyakiti orang lain. Inilah yang akan membuat
mereka yang sabar menjadi orang yang mulia dalam pemujaan kehadapan Hyang
Widi, menyucikan sang Atman dalam diri dan diterima oleh orang lain karena
ketulusannya.
Agama Hindu mengajarkan umatnya untuk menjadi orang
yang sabar dan bersyukur, tidak dengan ucapan ucapan yang mubazir, tetapi
melalui praktek praktek spiritual yang melatih Panca Karmendria dan Panca
Budindria menjadi seorang yang satwika. Inilah ajaran Hindu Diet Code yang
sangat dikagumi.
Kalau kita telusuri lebih jauh, banyak faktor yang
mempengaruhi kita menjadi orang yang tidak sabar. Karma Wasana kita masa
lalu, Pengetahuan kita tentang tatwa, minimnya pratek spiritual dan
Keterikatan kita yang sangat besar adalah beberapa hal diantaranya.
Karma wasana kita di masa lalu sangat menentukan
pola kebribadian yang kita miliki. Orang yang berasal dari kelahiran utama
akan terpatri dalam dirinya awidya yang sangat sedikit sehingga melahirkan
pola kepribadian yang lebih sabar. Akan tetapi bagi kita yang mungkin berasal
bukan dari kelahiran utama, mungkin akan terpatri sikap sikap yang
menonjolkan Rajas atau Tamas. Ajaran Hindu yang sangat luhur menganjurkan
agar kita tidak perlu mempermasalahkan dari mana kelahiran kita, yang lebih
diutamakan adalah bagaimana melatih pola kepribadian kita menjadi lebih
satwika. Disinilah melatih lidah dan pikiran dengan Sadana dan Kirtan sangat
dianjurkan. Semakin sering kita menyebut samaranam Tuhan, semakin lembutlah
hati, pikiran dan ucapan kita serta awidya dalam diripun akan menipis.
Pengetahauan kita tentang tatwa dan susila yang
sangat minim adalah masalah kedua kenapa kita menjadi orang yang tidak sabar.
Mungkin sebagian besar dari kita menganggap ini adalah pernyatan klise, akan
tetapi pengalaman empiris di keseharian menunjukkan saudara saudara kita yang
berjalan di dunia spiritual Hindu mempunyai kesabaran yang sangat
mengagumkan. Tingkatan jnana kita dan praktek spiritual kita yang membedakan
tingkatan kesabaran kita. Kalau kita tidak pernah menyadari di tingkat mana
kecerdasan spiritual kita, maka selamanya kita akan menjadi orang yang
kerdil. Kerdil dalam arti kebijaksanaan kita dalam menyelesaikan masalah
sangat rendah. Tidak sedikit persoalan yang dihadapi harus diselesaikan
dengan Hati Nurani, bukan dengan Logika yang mengedepankan benar dan salah.
Kalau sudah menyangkut Hati Nurani, hanya orang yang sabar dan memiliki
kecerdasan Jnana yang baiklah yang menjadi sukses. Kalau sudah begini, kapan
kita akan mempelajari dan mempraktekkan jnana tentang tatwa dan Susila ?
Latihan latihan spiritual adalah faktor yang ketiga.
Memliki Jnana yang sangat tinggi jika tidak dilatih dengan latihan latihan
spiritual yang berkesinambungan bukannya menjadikan kita orang yang sabar dan
rendah hati, akan tetapi membawa kita kedalam penonjolan kesombongan diri,
dengan cirri sikap Rajas dan Tamas yang sangat kental. Kalau Rajas sudah
sangat menonjol dalam sang diri, maka semua tindakan akan dilakukan atas
dasar pembenaran diri. Tidak sedikit kita menjumpai anak anak muda kita
memiliki Jnana yang baik tetapi larut dalam minuman keras dan sikap tamas
lainnya. Oleh karena itu, melakukan praktek praktek spiritual dengan teratur,
sangat dianjurkan karena akan melatih pola pikir, perkataan dan sikap yang
rendah hati.
Faktor yang terakhir adalah keterikatan kita yang
sangat besar akan segala hal. Seorang atasan dengan keterikatan jabatan
dipundaknya cenderung menjadi orang yang lebih mudah marah dan tidak sabar.
Demikian pula keterikatan seorang majikan atas pembatunya. Keterikatan yang
terlalu besar kadang kadang membuat kita celaka karena semua dilakukan atas
pembenaran diri. Oleh karena itu, Githa mengajak kita untuk melepaskan segala
bentuk keterikatan agar kita menjadi orang yang rendah hati dan sabar.
Menjadi orang yang bisa merasakan kesenangan dan kesedihan dalam kejernihan
sang Atman, “Sama dukha dukha diram, moksartham ca iti darma”.
Dengan menyadari faktor faktor ini, Hindu
mengajarkan tidak mudah melatih diri menjadi orang yang sabar. Diperlukan
kejujuran, sikap mental dan semangat untuk berubah. Namun, ada satu hal yang
sering disampaikan oleh para spiritual Hindu agar kita menjadi lebih Sabar.
Mulalah dari pengendalian Lidah. Berilah lidah makanan yang banyak mengandung
unsur Satvika. Latihlah bagian tubuh kita yang paling penting ini dengan
mengucapkan nama nama Beliau setiap saat. Dengan memulai dua hal ini secara
terus menerus dan konsisten, niscaya awidya dalam angga sarira menipis, dan kita
menjadi orang yang rendah hati, lemah lembut, sabar serta mulia dihadapan
Hyang Widhi dan sesama manusia.
---ooo---
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar